Yogyakarta, 10 Oktober 2006 - Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta bekerjasama dengan Direktorat Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film pada tanggal 10 Oktober 2006 menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang mengangkat tema Isu-isu Strategis Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa. Kegiatan ini bertempat di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, dibuka oleh Drs. A. Budi Priyadi, M.Ap., Direktur Pembangunan Karakter dan Pekerti Bangsa, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film. FGD diikuti dari berbagai kalangan yaitu: akademisi, birokrat, budayawan, tokoh masyarakat/adat/sukubangsa dan tokoh agama. Narasumber dalam kegiatan ini adalah: Prof. Dr. Hari Purwanto dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, Ir. Yuwono Sri Suwito, MM., KH. Muhaimin, Drs. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. dari Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan Drs. Wahyudi Kumorotomo, MPP. dari Fisipol UGM.
Setelah memperhatikan dan mencermati pidato pembukaan Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film dan berbagai makalah dari narasumber: akademisi, birokrat, budayawan, tokoh masyarakat/adat/sukubangsa, tokoh agama, serta jalannya diskusi yang berkembang, maka dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut :
Globalisasi adalah merupakan proses penyempitan ruang dan waktu sebagai akibat ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat terutama pada bidang informasi, telekomunikasi dan transportasi.
Globalisasi tidak bisa dihindarkan dan harus terjadi namun tidak perlu ditakuti yang terpenting bagaimana bangsa kita menjadi tetap kokoh dengan jatidiri yang dimiliki.
Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa tetap diperlukan agar kehidupan berbangsa dan bernegara tetap utuh, bersatu untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita bangsa yakni masyarakat adil dan makmur yang dijiwai UUD 1945.
Masalah integrasi nasional dan integrasi budaya tetap diupayakan di atas dasar-dasar persatuan bangsa. Oleh karena itu perlu peningkatan apresiasi terhadap keanekaragaman budaya untuk memperkokoh integrasi nasional.
Pemantapan kurikulum senantiasa diupayakan sesuai dan serasi dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, dengan tetap memperhatikan kearifan budaya lokal yang ditanamkan sejak usia dini.
Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman suku bangsa karena itu rawan konflik maka diperlukan saling pengertian antar suku bangsa, saling tenggang rasa, saling hormat-menghormati menjaga keutuhan dan keharmonisan hubungan antar suku bangsa.
Isu dikotomi antara agama dengan kebangsaan perlu mendapat perhatian serius agar tidak muncul keretakan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.
Diperlukan rasionalitas dalam merumuskan kepribadian bangsa dengan mengakui adanya keragaman budaya sehingga akan membangkitkan nasionalisme yang kokoh.
Untuk membentuk kepribadian bangsa yang kokoh perlu mengakomodasi keberagaman budaya lokal.
Pembinaan karater dan kepribadian bangsa perlu dilakukan terus menerus di semua level kemasyarakatan.
Kontributor : Pantja – BKSNT Jogja
|