Yogyakarta, 13 April 2007 - Kegiatan Diskusi Sejarah dengan tema “Kota dan Perubahan Sosial Dalam Perspektif Sejarah” telah dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, tanggal 11-12 April 2007 bertempat di Hotel Matahari Prawirotaman Yogyakarta, Jalan Parangtritis No. 123, Yogyakarta.
Diskusi Sejarah dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kemudian dilanjutkan pembicara kunci yang disampaikan oleh Dr. Magdalia Alfian, Direktur Nilai Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Adapun judul makalah dan pembicara yang tampil dalam Diskusi Sejarah ini adalah :
Potensi dan Masalah Perkotaan Sebagai Kawasan Pusaka Budaya
Oleh : Prof. Dr. Inajati Adrisijanti (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Perpindahan Ibu Kota Negara Suatu Wacana atau Keharusan
Oleh : Prof. Dr. Sutikno (Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Kota dan Kapitalisme Perkebunan
Oleh : Prof. Dr. Soegijanto Padmo (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Sejarah Kota, Penduduk Kota dan Warga Kota: Kisah Kota di Indonesia
Oleh : Prof. Dr. Bambang Purwanto (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Ruang-ruang Perkotaan: Makna dan Perubahan Simbol
Oleh : Prof. Dr. Djoko Suryo (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Kekerasan dan Kriminalitas Masyarakat Perkotaan Dalam Perkembangan Jaman
Oleh : Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta
Pemukiman dan Pembangunan Infrastruktur Kota
Oleh : Prof. Dr. Tajuddin Noor Effendi, MA (Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Perkembangan Ekonomi Perkotaan Pasca Kemerdekaan
Oleh : Prof. Dr. Mudradjat Kuncoro (Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
Berdasarkan pada pidato pengarahan Direktur Nilai Sejarah, Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta makalah yang disampaikan oleh para pembicara dihasilkan rumusan sebagai berikut :
Wacana tentang perpindahan ibukota dapat menjadi realita sepanjang memperhatikan aspek sosial, ekonomi, politik, ekologi dan budaya serta sebagai upaya untuk menciptakan negara yang maju, yang memerlukan kondisi yang aman, nyaman, dan kondusif, untuk membangun masyarakat yang cerdas dan sejahtera secara berkeadilan.
Ekonomi perkebunan merupakan faktor dominan bagi berkembangnya kota lewat peluang ekonomi yang diciptakannya yang mampu mendorong berkembangnya sektor primer, sekunder dan tertier yang dalam proses tersebut proses involusi dapat dihambat dengan munculnya etika baru dalam berkehidupan serta munculnya sektor informal di kota dan di desa.
Fungsi ekonomis kota berkembang sejalan dengan dinamika kegiatan ekonomi domestik maupun internasional. Posisi strategis Indonesia di kawasan Asia Pasifik merupakan peluang bagi Indonesia untuk tampil lebih nyata dalam dinamika ekonomi yang terjadi. Hal tersebut menuntut diaktifkannya fungsi dalam angkutan darat, laut dan udara dengan dibangunnya sarana prasarana yang memadai seperti bandar udara, terminal, dan pelabuhan yang mempunyai arti penting dalam memanfaatkan peluang tersebut.
Perkembangan pemukiman kota dipengaruhi oleh nilai Jawa dan Islam serta nilai Eropa. Pada masa kemudian nilai modern telah mendominasi perkembangan pola pemukiman yang terjadi di wilayah perkotaan.
Kehidupan kota yang sangat kompetitif dan memerlukan kertrampilan formal membuat tenaga kerja tidak terdidik yang merupakan sebagian besar pencari kerja di Indonesia menjadi semakin termarjinalkan apalagi sektof informal di kota mulai tidak ditolerir oleh para penguasa. Akibatnya muncullah alternative baru yaitu papa budaya atau poverty culture yang sarat dengan budaya kriminal dan kejahatan. Semakin maraknya kriminalitas baik secara kuantitatif maupun kualitatif menggaris bawahi kegagalan bangsa ini dalam mendidik anak bangsa menjadi manusia yang berakhlakmulia.
Bangunan fisik dan peninggalan budaya merupakan aset bangsa yang perlu dilestarikan karena dapat menjadi sumber pendapatan nasional lewat program pengembangan pariwisata.
Perubahan yang terjadi pada aspek tata ruang kota yang berlangsung sejak masa tradisional, kolonial dan masa modern yang didorong oleh pergeseran kedudukan sebagai pusat politik, administrasi pemerintahan, pusat kegiatan ekonomi, dan pusat kebudayaan ditandai oleh proses konvergensi, transformasi, dan konfigurasi berbagai unsur kebudayaan lokal dan luar Indonesia.
Wacana kajian sejarah kota perlu dilakukan reinterpretasi dari sejarah kota yang bernuansa politik ke narasi sejarah kota yang bernuansa kehidupan sehari-hari.
Kontributor : Pantja – BPSNT Yogyakarta
|