Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional
----- Terima kasih atas kunjungan Anda di website Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, http://www.bpsnt-jogja.info -----
Untitled Document
 
Yogyakarta, 06 Sep 2010
TOTAL PENGUNJUNG SEJAK
01 Juni 2006
00018321
Untitled Document
 RUWATAN BERSAMA XX TAHUN 2010 LEMBAGA JAVANOLOGI YOGYAKARTA, MINGGU KLIWON, 11 JULI 2010 
 DIALOG BUDAYA: MENEGAKKAN MORALITAS BANGSA MELALUI BUDAYA 
 LOMBA KARYA TULIS DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI PAHLAWAN TANGGAL 10 NOVEMBER 2009 
 DISKUSI SEJARAH “WAJAH DEMOKRASI DI INDONESIA” 
 LAWATAN SEJARAH REGIONAL IV TAHUN 2008 BPSNT YOGYAKARTA 
     
  •• Index Agenda  
     
   
 KUNJUNGAN MAHASISWA IAIN PALEMBANG 
 BOKOR KENCONO PENTAS DI BALAIRUNG SAPTA PESONA JAKARTA 
 DISKUSI SEJARAH: KOTA DAN PERUBAHAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SEJARAH 
 KUNJUNGAN MAHASISWA UNIVERITAS NEGERI MALANG DI BPSNT YOGYAKARTA 
 FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD): ISU-ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN KARAKTER DAN PEKERTI BANGSA 
     
  •• Index Berita  
     
 Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 
 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali 
 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang 
 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak 
 Kenali Negerimu, Cintai Negerimu 
 Puslitbang Kebudayaan - DepBudPar 
 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh dan Sumatera Utara 
 BPSNT Maluku dan Maluku Utara 
 BPSNT Bandung 


Catatan
BPSNT Yogyakarta tidak bertanggungjawab atas informasi pada situs lain tersebut.
 
DISKUSI SEJARAH: KOTA DAN PERUBAHAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SEJARAH
 
   
 
Yogyakarta, 13 April 2007 - Kegiatan Diskusi Sejarah dengan tema “Kota dan Perubahan Sosial Dalam Perspektif Sejarah” telah dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, tanggal 11-12 April 2007 bertempat di Hotel Matahari Prawirotaman Yogyakarta, Jalan Parangtritis No. 123, Yogyakarta.

Diskusi Sejarah dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kemudian dilanjutkan pembicara kunci yang disampaikan oleh Dr. Magdalia Alfian, Direktur Nilai Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Adapun judul makalah dan pembicara yang tampil dalam Diskusi Sejarah ini adalah :

Potensi dan Masalah Perkotaan Sebagai Kawasan Pusaka Budaya
Oleh : Prof. Dr. Inajati Adrisijanti (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

Perpindahan Ibu Kota Negara Suatu Wacana atau Keharusan
Oleh : Prof. Dr. Sutikno (Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

Kota dan Kapitalisme Perkebunan
Oleh : Prof. Dr. Soegijanto Padmo (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

Sejarah Kota, Penduduk Kota dan Warga Kota: Kisah Kota di Indonesia
Oleh : Prof. Dr. Bambang Purwanto (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

Ruang-ruang Perkotaan: Makna dan Perubahan Simbol
Oleh : Prof. Dr. Djoko Suryo (Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

Kekerasan dan Kriminalitas Masyarakat Perkotaan Dalam Perkembangan Jaman
Oleh : Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta

Pemukiman dan Pembangunan Infrastruktur Kota
Oleh : Prof. Dr. Tajuddin Noor Effendi, MA (Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

Perkembangan Ekonomi Perkotaan Pasca Kemerdekaan
Oleh : Prof. Dr. Mudradjat Kuncoro (Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)

Berdasarkan pada pidato pengarahan Direktur Nilai Sejarah, Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta makalah yang disampaikan oleh para pembicara dihasilkan rumusan sebagai berikut :

Wacana tentang perpindahan ibukota dapat menjadi realita sepanjang memperhatikan aspek sosial, ekonomi, politik, ekologi dan budaya serta sebagai upaya untuk menciptakan negara yang maju, yang memerlukan kondisi yang aman, nyaman, dan kondusif, untuk membangun masyarakat yang cerdas dan sejahtera secara berkeadilan.

Ekonomi perkebunan merupakan faktor dominan bagi berkembangnya kota lewat peluang ekonomi yang diciptakannya yang mampu mendorong berkembangnya sektor primer, sekunder dan tertier yang dalam proses tersebut proses involusi dapat dihambat dengan munculnya etika baru dalam berkehidupan serta munculnya sektor informal di kota dan di desa.

Fungsi ekonomis kota berkembang sejalan dengan dinamika kegiatan ekonomi domestik maupun internasional. Posisi strategis Indonesia di kawasan Asia Pasifik merupakan peluang bagi Indonesia untuk tampil lebih nyata dalam dinamika ekonomi yang terjadi. Hal tersebut menuntut diaktifkannya fungsi dalam angkutan darat, laut dan udara dengan dibangunnya sarana prasarana yang memadai seperti bandar udara, terminal, dan pelabuhan yang mempunyai arti penting dalam memanfaatkan peluang tersebut.

Perkembangan pemukiman kota dipengaruhi oleh nilai Jawa dan Islam serta nilai Eropa. Pada masa kemudian nilai modern telah mendominasi perkembangan pola pemukiman yang terjadi di wilayah perkotaan.

Kehidupan kota yang sangat kompetitif dan memerlukan kertrampilan formal membuat tenaga kerja tidak terdidik yang merupakan sebagian besar pencari kerja di Indonesia menjadi semakin termarjinalkan apalagi sektof informal di kota mulai tidak ditolerir oleh para penguasa. Akibatnya muncullah alternative baru yaitu papa budaya atau poverty culture yang sarat dengan budaya kriminal dan kejahatan. Semakin maraknya kriminalitas baik secara kuantitatif maupun kualitatif menggaris bawahi kegagalan bangsa ini dalam mendidik anak bangsa menjadi manusia yang berakhlakmulia.

Bangunan fisik dan peninggalan budaya merupakan aset bangsa yang perlu dilestarikan karena dapat menjadi sumber pendapatan nasional lewat program pengembangan pariwisata.

Perubahan yang terjadi pada aspek tata ruang kota yang berlangsung sejak masa tradisional, kolonial dan masa modern yang didorong oleh pergeseran kedudukan sebagai pusat politik, administrasi pemerintahan, pusat kegiatan ekonomi, dan pusat kebudayaan ditandai oleh proses konvergensi, transformasi, dan konfigurasi berbagai unsur kebudayaan lokal dan luar Indonesia.

Wacana kajian sejarah kota perlu dilakukan reinterpretasi dari sejarah kota yang bernuansa politik ke narasi sejarah kota yang bernuansa kehidupan sehari-hari.

Kontributor : Pantja – BPSNT Yogyakarta