Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional
----- Terima kasih atas kunjungan Anda di website Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, http://www.bpsnt-jogja.info -----
Untitled Document
 
Yogyakarta, 06 Sep 2010
TOTAL PENGUNJUNG SEJAK
01 Juni 2006
00018321
Untitled Document
 PENGUMUMAN LOMBA ORASI BUDAYA TAHUN 2009 
 DEMOKRASI, DULU, KINI, DAN ESOK 
 DEMOKRASI DI TINGKAT LOKAL 
 ANCAMAN KRISIS DAN IKHTIAR SISTEMIS KPU DALAM PENGEMBANGAN DEMOKRASI ELEKTORAL-FORMAL 
 DEMOKRASI: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN 
     
  •• Index Makalah  
     
 PERMAINAN TRADISIONAL NINI TOWONG, FUNGSI DAN NILAINYA BAGI MASYARAKAT 
 MAKNA SIMBOLIS UPACARA GREBEG NGENEP KAITANNYA DENGAN UPACARA GREBEG KRATON KARTASURA 
 PENGARUH MEDIA PANDANG DENGAR TERHADAP JAM BELAJAR DI DESA ARGOMULYO KECAMATAN SEDAYU KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 
 DUNIA SEKOLAH ANAK JALANAN: SEBUAH KORIDOR PENDIDIKAN NON FORMAL DI YOGYAKARTA 
 DINAMIKA INDUSTRI BATIK PEKAJANGAN 1930-1970 
     
  •• Index Penelitian  
     
 Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 
 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali 
 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang 
 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak 
 Kenali Negerimu, Cintai Negerimu 
 Puslitbang Kebudayaan - DepBudPar 
 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh dan Sumatera Utara 
 BPSNT Maluku dan Maluku Utara 
 BPSNT Bandung 

Catatan
BPSNT Yogyakarta tidak bertanggungjawab atas informasi pada situs lain tersebut.
 
DINAMIKA INDUSTRI BATIK PEKAJANGAN 1930-1970

Oleh : Dwi Ratna Nurhajarini
 
   
 
Pada awal abad XX masyarakat Pekajangan sudah mengenal kegiatan pembatikan, yang dikerjakan untuk mengisi waktu luang setelah kegiatan di sektor pertanian dan pertenunan. Kegiatan pembatikan mulai berkembang ke arah industri manufaktur sejalan dengan masuknya bahan-bahan baku batik dari luar negeri. Dengan adanya bahan dari luar, kegiatan pembatikan yang semula bahan-bahannya dihasilkan sendiri, mulai berubah dengan masuknya pedagang Eropa, Cina, Arab dan Jepang.

Pemerintah kolonial Belanda dengan kekuatan ekonomi dan politiknya, memberikan kemudahan kepada para pedagang Cina dalam distribusi bahan baku. Perdagangan batik yang semula hanya melibatkan para pedagang pribumi, mulai masuk dalam perdagangan internasional. Hubungan perdagangan yang diskriminatif antara pedagang Eropa pedagang perantara dengan pedagang pribumi menimbulkan benturan-benturan kepentingan antara kelompok yang terlibat dalam kegiatan perdagangan batik.

Pembatikan di Pekajangan yang erat kaitannya dengan pertumbuhan Muhammadiyah, pernah mencapai masa kejayaan sehingga taraf hidup masyarakat ikut terangkat. Kemakmuran karena industri batik tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat Pekajangan saja namun termasuk juga para pekerja yang berasal dari daerah sekitarnya. Keberadaan kegiatan pembatikan yang dimulai pada awal abad XX, sampai sekitar tahun 1970-an, mempunyai dinamika yang unik. Oleh karena itu penelitian ini mencoba menggambarkan dinamika yang ada di industri batik Pekajangan.

Selengkapnya: PATRA-WIDYA Vol. 3 No. 3, September 2002
 
 
Untitled Document
   Copyright © 2006 .::. Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta